Gaya Kepemimpinan Husniah Bupati Gowa : Ketenangan Ala Gajah Mada yang Membuat Fitnah Tak Berdaya

Hatidamai.id Gowa Susel — Dalam sejarah kepemimpinan Nusantara, ada filosofi yang diwarisi dari sosok besar Gajah Mada: diam saat difitnah bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah strategis untuk mengumpulkan bukti.

Foto : Aksi demo yang di duga di rancang oknum tertentu, yang di nilai masyarakat sudah di luar dari batas kewajaran seperti pepatah “Di atas langit masih ada langit

Saat waktu yang tepat tiba, kebenaran yang tersimpan itu akan meluncur menjadi serangan balik yang paling mematikan bagi mereka yang menyebar kebohongan.

Foto : Aksi Demo di duga Anarkis bakar ban di areal terlarang muka gedung rumah rakyat yang sudah tidak bisa lagi di telelolir, rakyat yang melihat menilai aksi demo tidak menarik simpatisan, karena bisa memicu kebakaran gedung Rakyat, yang di bangun dari hasil pungutan pajak masyarakat (Naja)

Filosofi inilah yang kini tampak dijalankan oleh Bupati Gowa, Dr. Hj. Sitti Husniah Talenran, di tengah badai isu dan tuduhan yang melingkupi pemerintahannya.

Berbagai kalangan masyarakat di Gowa, menilai, belakangan ini terlihat adanya konspirasi politik yang dirancang oleh oknum tertentu.

Rencana tersebut dikabarkan mendapatkan dukungan dari sosok misterius yang kerap disebut-sebut sebagai “Mister X”.

Dugaan yang berkembang di masyarakat, skenario ini disusun dengan satu tujuan utama: merebut jabatan Bupati Gowa yang masih menjabat secara aktif, namun dengan cara-cara kotor.

Strategi yang dipakai adalah menyebarkan fitnah dan tuduhan berbasis isu sensitif yang ternyata tidak berdasar, atau yang dikenal sebagai berita bohong.

Yang menjadi sorotan publik adalah sikap tenang dan tegar yang ditunjukkan Husniah. Meski namanya diombang-ambingkan, meski isu-isu yang tidak pantas diucapkan disebarluaskan, bahkan hingga ada aksi demonstrasi yang membawa tuduhan tersebut ke ruang publik, Bupati Gowa itu tetap tampil tenang dan tidak terprovokasi.

Namun, ketenangan itu mengundang pesan tegas dari banyak pihak: jangan mengartikan sikap damai Husniah sebagai kelemahan, apalagi semata-mata karena ia adalah sosok perempuan.

Jangan sampai pihak-pihak tertentu bertindak semau-maunya melampaui batas kewajaran, karena di balik keheningan itu, kebenaran sedang dikumpulkan dengan cermat.

Ada pepatah bijak yang mengatakan, “Lebih baik terlihat kalah tapi jujur, daripada terlihat menang tapi sedang menabung kehancuran.” Kalimat itu seolah menjadi cerminan nyata dari sosok pemimpin perempuan ini. Husniah menjalani masa kepemimpinannya bagai air yang mengalir.

Ada ungkapan filosofis yang sangat pas menggambarkan karakternya: “Aliran air yang lembut mampu menembus batu dan menggerus gunung. Ini menunjukkan bahwa kelembutan dan keteguhan hati, pada akhirnya, mampu mengalahkan kekerasan dan kebohongan.”

Prinsip yang dipegang teguhnya sederhana namun kuat: “Ketika kebenaran sudah berada dalam genggaman, maka jadilah ia air yang mengalir. Tak ada dinding, tak ada bukit, dan tak ada kekuatan apa pun yang bisa menghalanginya mencapai tujuannya.”

Kenyataan di lapangan kini membuktikan hal itu. Berbagai isu dan tuduhan yang dilontarkan pihak lawan ternyata sama sekali tidak mampu menggoyahkan posisi maupun wibawa Husniah di mata masyarakat.

Justru sebaliknya, setiap kali fitnah dilancarkan, kepercayaan publik semakin menguat. Elektabilitas dan dukungan rakyat terhadap sosok pemimpin yang bekerja dan melayani ini justru kian meningkat tajam.

Kisah di Gowa kini mengajarkan satu hal penting: jilid pertama adalah fitnah yang disebar dengan riuh rendah.

Namun jilid kedua yang pasti terjadi, adalah ketika fitnah itu berbalik arah dan menimpa pelakunya sendiri, sementara kebenaran tetap berdiri kokoh, mengalir, dan tak terhentikan. (Naja)

Exit mobile version