Hatidamai.id Gowa Sulsel – Suhu politik dan sosial di Kabupaten Gowa kian memanas namun juga mulai melahirkan sikap tegas dari masyarakat. Setelah serentetan peristiwa mulai dari beredarnya isu perselingkuhan di Maret 2026, pemasangan baliho sensitif bertuliskan “Bupati Gowa Pesina” di kawasan Barombong, Gowa, lalu terkesan memicu aksi demonstrasi di April yang jumlah massanya dinilai jauh dibesarkan pemberitaan.
Hingga puncaknya Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) DPRD tanggal 11 Mei lalu yang ternyata tidak menyetorkan satu pun bukti video atau data dugaan perselingkuhan, kini seluruh elemen masyarakat mulai bersikap dan bersuara lantang.
Warga yang tergabung dari berbagai unsur menyatakan kekecewaan dan kemarahannya terhadap pihak-pihak yang dianggap menyebarkan berita bohong, fitnah, dan narasi rekayasa.
Menurut mereka, pemberitaan yang tidak berdasar, pembesaran jumlah massa demo, hingga isu yang dihembuskan tanpa bukti nyata, telah meresahkan warga, mengganggu stabilitas daerah, bahkan sempat memicu bentrokan antar-kelompok massa di depan gedung DPRD.
“Kami seluruh rakyat Gowa sudah bersikap. Kami tidak mau lagi ada pihak-pihak yang menyiarkan berita fitnah, mengada-ada, dan memanaskan suasana tanpa dasar yang jelas.
Mulai dari baliho di Barombong, sampai demo yang diberitakan ratusan padahal cuma puluhan orang, itu semua rekayasa,” tegas salah satu perwakilan warga, yang juga mantan jurnalis, inisial (T), saat ditemui media ini.
Ia menegaskan, ketiadaan bukti di meja RDPU DPRD menjadi bukti nyata bahwa isu besar yang digembar-gemborkan selama dua bulan ini hanyalah upaya provokasi semata.
“Kalau benar ada bukti, kenapa tidak diserahkan saat RDPU kemarin? Ini jelas provokasi. Sudah cukup, kami minta Kapolres Gowa bersikap tegas. Tangkap dan proses hukum para pelaku, penyiar berita bohong, serta provokator yang berusaha memecah belah warga dan merusak nama baik daerah,” tambahnya dengan nada tinggi.
Pernyataan ini disambut serempak oleh warga Bontonompo Gowa, yang hadir. Mereka menuntut aparat Kepolisian bertindak adil dan berani, menindak tegas setiap orang atau kelompok yang terbukti menyebarkan berita tidak benar, melakukan pencemaran nama baik, dan memicu keributan di tengah masyarakat.
Pantauan di lapangan menunjukkan suasana mulai kondusif dan rasa kepercayaan publik terhadap pemberitaan dan narasi yang beredar selama ini memojokkan Husniah, ternyata itu dugaan konspirasi politik yang ingin merebut paksa Kepempimpinan Bupati Gowa, yang masih aktif.
Apalagi yang pernah kami baca di media beredar bulan lalu, Bomwaktu dan Hatidamai, kuat indikasi ada rencana perebutan paksa tahun 2027, untuk menggulingkan kekuasaan.
Warga berharap Kapolres Gowa segera merespons tuntutan masyarakat ini demi memulihkan ketertiban umum dan keadilan,”harapnya.
Dan kalau tidak dilakukan penindakan maka ormas ormas dan tokoh tokoh, akan turun melakukan aksi demo damai atas tuntutan tersebut.












